bisnis.laksamana.id – 18 Juni 2026 | Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru, Kevin Warsh, memulai era kepemimpinannya dengan mempertahankan suku bunga acuan AS pada level 3,50-3,75 persen.
Dalam pertemuan pertamanya sejak menjabat pada bulan lalu, para pejabat The Fed sepakat mempertahankan suku bunga dan sekaligus meluncurkan agenda reformasi besar yang akan mengubah cara bank sentral AS menjalankan kebijakan moneternya.
Meski demikian, proyeksi kuartalan terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed kini memperkirakan kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
Selain itu, The Fed juga mengakui bahwa inflasi masih tinggi dibanding target Komite sebesar 2 persen, namun sebagian disebabkan oleh guncangan pasokan yang mendorong kenaikan harga di sektor tertentu, termasuk energi.
Ekonom Kepala AS Jefferies, Thomas Simons, menilai perubahan tersebut sangat signifikan.
Keputusan mempertahankan suku bunga serta proyeksi kenaikan suku bunga dari hampir separuh pejabat The Fed menunjukkan peluang yang sangat kecil bagi Warsh untuk memenuhi harapan Presiden AS Donald Trump yang menginginkan pemangkasan suku bunga.
Proyeksi terbaru menunjukkan inflasi bakal melambat tajam pada tahun depan sehingga memungkinkan suku bunga kembali ke level saat ini pada akhir 2027 dan turun sedikit lagi pada 2028.
Kabar baiknya, para pejabat The Fed akan kembali bertemu dalam enam minggu.
Kevin Warsh juga mengingatkan agar pasar tak terlalu fokus pada proyeksi suku bunga para pejabat atau yang dikenal sebagai dot plot.
Demikianlah pernyataan kebijakan terbaru The Fed yang menunjukkan kewaspadaan terhadap inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga di masa depan.
Hal ini menandakan bahwa The Fed masih berfokus pada stabilitas harga dan menghadapi risiko dua arah terhadap langkah kebijakan berikutnya.








