bisnis.laksamana.id – 17 Juni 2026 | Kasus bullying kembali menjadi perhatian publik setelah seorang anak berusia 6 tahun di Jakarta Pusat diduga menjadi korban perundungan oleh dua remaja. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa bullying bukan sekadar candaan atau kenakalan anak-anak, melainkan dapat memiliki dampak serius dan mengancam keselamatan korban.
Psikolog Klinis Gita Aulia, M.Psi., menjelaskan bahwa perilaku bullying sering kali tidak muncul begitu saja. Anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami setiap hari. Oleh karena itu, beberapa hal yang kerap dianggap sepele justru bisa menjadi bibit perilaku perundungan pada anak, seperti membandingkan anak dengan saudara atau teman, melabeli anak dengan sebutan, menertawakan teman yang jatuh atau melakukan kesalahan, menganggap ejekan sebagai candaan biasa, dan menyelesaikan konflik dengan bentakan atau kekerasan.
Empati dimulai dari rumah, kata Gita. Orang tua perlu membangun empati sejak dini dengan memberi contoh yang baik, mengajarkan anak memahami perasaan orang lain, serta membiasakan pertanyaan sederhana seperti, ‘Kalau kamu ada di posisi dia, kira-kira kamu akan merasa bagaimana?’ Selain itu, orang tua juga perlu memberikan apresiasi ketika anak menunjukkan perilaku positif, seperti membantu teman, meminta maaf, atau membela seseorang yang diperlakukan tidak baik.
Karakter anak terbentuk dari hal-hal kecil yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, pencegahan bullying sebaiknya dimulai dari rumah. Dengan demikian, anak-anak dapat belajar tentang pentingnya empati, kompas, dan perilaku yang positif.
Jika kita ingin mencegah bullying, kita harus memulai dari diri sendiri. Kita harus menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dan membantu mereka memahami pentingnya empati dan perilaku yang positif.









