Scroll to read post

Krisis Kesehatan Anak SD: Apakah Kami Mengabaikan Permasalahan Utama?

Darya abra
Krisis Kesehatan Anak SD: Apakah Kami Mengabaikan Permasalahan Utama?
Krisis Kesehatan Anak SD: Apakah Kami Mengabaikan Permasalahan Utama?
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 10 Juni 2026 | Di tengah perdebatan tentang kualitas pendidikan anak SD, banyak dari kita terlalu sering membicarakan tentang nilai ujian dan angka kelulusan. Namun, kita jarang berbicara tentang fondasi dari segalanya: kesehatan fisik dan mental anak. Padahal, mustahil membangun generasi cerdas di atas tubuh yang rapuh.

Beberapa hari yang lalu, saya melihat gambar anak yang mengalami stunting atau pikiran yang kelelahan – bahkan sebelum bel pertama berbunyi. Mereka adalah anak-anak yang kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan kalori dari makanan ultraproses. Akibatnya, tubuh gemuk tetapi pikiran lamban. Ini yang para ahli sebut sebagai malnutrisi ganda.

Murid yang paling sulit konsentrasi ternyata bukan yang paling miskin, tapi yang setiap hari sarapan dengan mie instan dan es teh sachet. Mereka tidak memiliki bahasa untuk mengungkapkan kelelahan dan kekurangan gizi mereka.

Pandemi COVID-19 mempercepat sebuah krisis yang sebenarnya sudah berjalan perlahan: epidemi miopia pada anak. Selama dua tahun pembelajaran jarak jauh, anak-anak menghabiskan rata-rata 6–8 jam sehari di depan layar. Dampaknya terasa nyata di meja periksa dokter mata.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang tua dan guru tidak menyadari bahwa anak mereka tidak bisa melihat tulisan di papan tulis dengan jelas. Anak-anak itu tidak mengeluh – karena mereka tidak tahu seperti apa rasanya penglihatan yang normal. Mereka hanya diam, tertinggal, dan dianggap tidak fokus.

Program skrining mata rutin di sekolah semestinya wajib. Bukan setahun sekali secara seremonial, melainkan terstruktur dengan tindak lanjut nyata: pemberian kacamata gratis, edukasi untuk orang tua, dan pengurangan screen time yang terukur.

Kita masih cenderung menganggap bahwa anak SD "belum punya beban". Ini keliru. Tekanan akademik dari PR yang menumpuk, ekspektasi nilai sempurna, persaingan masuk SMP favorit, hingga bullying di media sosial – semua itu nyata dirasakan anak usia 7 hingga 12 tahun.

Tanggung jawab itu ada di tangan kita semua: pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat. Sudahkah kita bertanya kepada anak SD di sekitar kita: "Kamu sehat? Kamu baik-baik saja?" – dan benar-benar mendengarkan jawabannya?

Kita harus sadar bahwa generasi emas 2045 yang kita impikan tidak akan lahir dari anak-anak yang kelelahan, kurang gizi, dan cemas. Mereka akan lahir dari anak-anak yang diberi ruang untuk tumbuh sehat – secara fisik, mental, dan sosial.

Krisis kesehatan anak SD bukan hanya soal kekurangan makan atau kelebihan kalori. Ini adalah permasalahan yang lebih besar dan kompleks. Kami harus berubah dan memprioritaskan kesehatan anak-anak kita.