bisnis.laksamana.id – 18 Mei 2026 | Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, pertanyaan tentang di mana kita bisa benar-benar pulang menjadi perenungan mendalam bagi banyak orang. Bagi sebagian dari kita, rumah bukanlah sekadar tempat fisik, melainkan tempat di mana kita merasa diterima apa adanya. Kisah ini menggambarkan perjalanan emosional seorang individu yang berjuang menemukan arti rumah ketika satu-satunya tempat berlindung, neneknya, mulai menua.
Sejak kecil, penulis merasakan jarak emosional dengan orang tuanya. Kehadiran nenek menjadi pelipur lara, memberikan rasa aman yang tidak ditemukan di tempat lain. Nenek, dengan caranya yang sederhana, selalu hadir tanpa syarat. Di rumah nenek, penulis merasa benar-benar menjadi dirinya sendiri, tanpa perlu berpura-pura atau menahan emosi.
Ketika liburan tiba, keputusan untuk mengunjungi nenek tidak pernah sulit. Bukan karena ingin memberontak, tapi karena tubuh dan jiwa sudah tahu di mana mereka seharusnya berada. Di sisi lain, hubungan dengan orang tua sendiri menjadi tantangan. Setiap percakapan dengan mereka memicu amarah yang tidak sepenuhnya dimengerti. Rasa marah itu, sebagaimana dijelaskan oleh psikolog Pete Walker, sering kali merupakan respons dari luka lama yang tidak pernah disembuhkan.
Ada banyak anak yang mengalami pengasuhan serupa, di mana pengabaian emosional dari orang tua diisi oleh figur lain seperti nenek. Ketika figur tersebut mulai menua dan hilang, pertanyaan tentang di mana harus pulang menjadi semakin mendesak. Teori John Bowlby tentang secure base menjelaskan betapa pentingnya figur tersebut dalam memberikan rasa aman dan arah dalam hidup seseorang.
Melihat orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan orang tua sering kali menimbulkan perasaan kehilangan akan sesuatu yang tidak pernah dimiliki. Ini bukan sekadar masalah anak yang tidak tahu berterima kasih, melainkan tentang sistem pengasuhan yang tidak optimal dan meninggalkan luka yang harus ditanggung sendiri.
Di akhir tulisan ini, penulis mengajak kita untuk mulai mendengarkan suara hati yang selama ini terpendam. Amarah dan kebingungan bukanlah tanda kerusakan, melainkan panggilan dari masa lalu yang ingin didengar. Mungkin langkah pertama untuk menemukan rumah sejati adalah dengan mulai mendengarkan suara itu, bukan lagi menelannya.








