Scroll to read post

Amran Tetapkan Harga Kedelai Lokal Tembus Rp10.000 per Kg untuk Kemandirian Pertanian

Pauel Scott
Amran Tetapkan Harga Kedelai Lokal Tembus Rp10.000 per Kg untuk Kemandirian Pertanian
Amran Tetapkan Harga Kedelai Lokal Tembus Rp10.000 per Kg untuk Kemandirian Pertanian
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 18 Mei 2026 | Dalam upaya meningkatkan kemandirian pertanian dan mengurangi ketergantungan pada impor, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, yang akrab disapa Amran, telah menetapkan harga beli kedelai lokal minimal sebesar Rp10.000 per kilogram. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong petani untuk lebih bersemangat dalam menanam kedelai dan mengembangkan sektor pertanian di Indonesia.

Harga yang telah ditetapkan ini diharapkan dapat memberikan jaminan bagi petani kedelai lokal, yang selama ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk harga jual yang tidak stabil. Dengan adanya patokan harga ini, diharapkan petani akan lebih termotivasi untuk meningkatkan produksi kedelai, yang merupakan salah satu komoditas pangan penting di Indonesia.

Amran menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menciptakan ekosistem pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan. Melalui penetapan harga ini, diharapkan akan tercipta keseimbangan antara kebutuhan pasar dan daya beli petani. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan dapat membantu menstabilkan harga kedelai di pasaran, yang sering kali dipengaruhi oleh fluktuasi harga hasil impor.

“Kita ingin memutus rantai ketergantungan pada kedelai impor. Dengan harga yang kita tetapkan ini, kita harapkan petani bisa lebih berdaya dan mampu bersaing,” ujar Amran dalam konferensi pers yang diadakan di Jakarta.

Selama ini, Indonesia masih mengandalkan kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan domestik, yang mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun. Dengan kebijakan harga ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan produksi kedelai lokal hingga lebih dari 1 juta ton dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini selaras dengan upaya untuk menciptakan ketahanan pangan nasional.

Dalam pengembangan kedelai lokal, pemerintah juga berencana untuk meningkatkan akses petani terhadap teknologi dan informasi pertanian. Selain itu, program pelatihan dan pendampingan bagi petani akan terus digalakkan agar mereka dapat memperoleh hasil yang optimal dari pertanian kedelai.

Para petani menyambut positif kebijakan ini. Salah satu petani kedelai di Jawa Timur, Budi (43 tahun), mengatakan, “Dengan adanya harga patokan ini, kami merasa lebih aman. Sebelumnya, kami sering kali khawatir jika harga turun, tetapi sekarang kami memiliki kepastian.”

Namun, tantangan tetap ada. Beberapa petani mengkhawatirkan ketersediaan benih berkualitas dan dukungan dari pemerintah dalam hal infrastruktur pertanian. Amran menyatakan bahwa pemerintah akan terus berupaya untuk mengatasi masalah ini dan memberikan dukungan yang diperlukan kepada petani.

Di sisi lain, para pengamat ekonomi memandang kebijakan ini sebagai langkah yang tepat, meskipun mereka juga mengingatkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada implementasi di lapangan. “Pemerintah perlu memastikan bahwa harga ini dapat diterima oleh semua pihak dan tidak hanya menguntungkan satu segmen,” ungkap seorang pengamat pertanian.

Secara keseluruhan, penetapan harga beli kedelai lokal diharapkan dapat menjadi langkah awal yang signifikan untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan kemandirian pangan di Indonesia. Dengan dukungan semua pihak, terutama petani, kebijakan ini yakin dapat membawa perubahan positif bagi sektor pertanian di tanah air.