Scroll to read post

Indonesia Siap Meluncur ke Luar Angkasa: Bagaimana Biak Menjadi Lokasi Peluncuran Ideal

shaib Oxley shaib
Indonesia Siap Meluncur ke Luar Angkasa: Bagaimana Biak Menjadi Lokasi Peluncuran Ideal
Indonesia Siap Meluncur ke Luar Angkasa: Bagaimana Biak Menjadi Lokasi Peluncuran Ideal
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 21 Mei 2026 | Pada tanggal 12 Mei 2026, SpaceX menyatakan niatnya untuk meluncurkan Starship dalam jumlah besar, dengan target ribuan penerbangan setiap tahun. Lokasi peluncuran yang ideal untuk mencapai cadence setinggi itu adalah di dekat garis khatulistiwa, seperti Pulau Biak di Papua. Biak memiliki keunggulan letak yang membuatnya menjadi salah satu lokasi peluncuran yang paling menarik di kawasan Pasifik.

Starship bukan sekadar roket biasa. Ia dirancang sebagai kendaraan yang dapat digunakan kembali secara berulang, mampu membawa muatan jauh lebih besar dibanding roket yang ada saat ini. Jika target peluncuran yang sangat tinggi itu ingin dicapai, maka lokasi peluncuran tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua tempat saja. Di sinilah letak peluang Biak.

Salah satu keunggulan utama Biak terletak pada posisinya yang sangat dekat dengan garis khatulistiwa, sekitar satu derajat lintang selatan. Semakin dekat sebuah lokasi peluncuran ke khatulistiwa, semakin besar “dorongan gratis” yang diperoleh roket dari rotasi Bumi. Efek ini memungkinkan roket membawa muatan lebih berat ke orbit tanpa harus mengorbankan bahan bakar tambahan.

Indonesia sebenarnya sudah memiliki landasan hukum yang kuat. Undang-Undang Antariksa 2013 mewajibkan pembangunan pelabuhan antariksa nasional, dan BRIN telah menetapkan Biak sebagai lokasinya. Pembebasan lahan direncanakan dimulai tahun ini, dengan target operasional sekitar tahun 2040. BRIN juga telah menyatakan bahwa fasilitas tersebut akan dioperasikan secara komersial dan terbuka bagi berbagai pengguna, baik domestik maupun internasional.

Alih-alih hanya melihat 2040 sebagai tenggat yang jauh, kita bisa memandangnya sebagai ruang persiapan yang cukup untuk menyesuaikan infrastruktur dengan kebutuhan kendaraan generasi baru. Starship membutuhkan lokasi yang mampu mendukung operasi berfrekuensi tinggi, dengan infrastruktur peluncuran yang lebih besar serta fasilitas produksi bahan bakar yang memadai.

Jika Biak berhasil menjadi bagian dari jaringan peluncuran Starship, manfaat yang bisa diperoleh Indonesia tidak kecil. Pertama, akan tercipta lapangan kerja dan aktivitas ekonomi baru di Papua, mulai dari konstruksi, operasional, hingga layanan pendukung. Kedua, keterlibatan langsung dengan teknologi mutakhir akan memberikan pengalaman berharga bagi insinyur dan industri dalam negeri. Ketiga, Indonesia berkesempatan ikut serta dalam misi-misi besar yang sedang dirancang, bukan hanya sebagai penonton.

Indonesia tidak perlu membatalkan kerja sama yang sudah ada. Yang dibutuhkan adalah memperluas cakupan. Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan antara lain: mulai menjajaki komunikasi dengan SpaceX untuk memperkenalkan Biak sebagai salah satu opsi lokasi internasional, mengkaji penyesuaian infrastruktur yang diperlukan agar Biak mampu mendukung operasional kendaraan berukuran besar dan dapat digunakan kembali, serta mempertimbangkan untuk bergabung dengan Artemis Accords.