bisnis.laksamana.id – 21 Mei 2026 | Perjalanan ke Cisadon menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi saya dan teman-teman. Kami memutuskan untuk melakukan trekking di hari kamis, 14 Mei 2026, dengan tujuan mencapai puncak Cisadon yang berada di ketinggian 1.100 MDPL. Kami berangkat dari Lubang Buaya menuju ke lokasi sekitar Stadion Pakansari sebelum memulai perjalanan menuju Cisadon.
Perjalanan kami dimulai pukul 07.30 WIB di sekitar Stadion Pakansari. Kami singgah ke warung terdekat untuk santapan jasmani sebelum melanjutkan perjalanan. Suasana sekitar stadion sudah ramai diisi dengan aktivitas joging, senam, sepedaan, dan berfoto ria.
Ketika kami sedang bersantap ria, kak Hilman ternyata sudah tiba di lokasi yang sama, akhirnya aku mengajaknya untuk bersantap jasmani juga sebelum pergi ke Cisadon. Saat kami sedang makan, kak Yusri dan kak Zul datang dan menegur dari seberang bahu jalan sambil berkendara menuju titik kumpul dan menunggu kami di sana.
Setelah selesai makan, maka kami bertiga bergegas menuju ke titik kumpul. Kemudian, datang menyusul dari Citayem yaitu kak Andi dan kak Ubay. Kami pun berkumpul. Sebelas orang ikut dalam perjalanan menuju ke Cisadon, terdiri dari sembilan laki-laki dan dua perempuan.
Perjalanan menuju titik awal trekking, kak Yusri memimpin sekaligus penunjuk arah. Suasana mulai berubah. Bangunan beton yang sering kami lihat mulai berganti dengan jalanan yang dikelilingi pepohonan dan udara yang lebih sejuk.
Ketika sampai di titik awal Cisadon, perjalanan mendaki dimulai. Jalur tanah, batu-batuan, pepohonan, dan suara alam mulai menemani langkah kami menuju Puncak Cisadon dan Danau Badeur.
Perjalanan menuju puncak diisi dengan banyak percakapan. Sepanjang perjalanan, obrolan maupun percakapan mengiringi langkah kaki kami. Tidak terkesan kaku dalam obrolan. Tidak ada papan tulis, tidak ada presentasi, tidak ada ruang kelas.
Kami berhenti untuk mengambil napas, minum, nyemil, dan ada yang makan ice cream. Jalur Cisadon menuju Danau Badeur bisa dikatakan landai dan banyak batu-batuan. Kami berjalan menuju puncak sekitar 7 km dengan waktu tempuh perkiraan 3-4 jam.
Ketika akhirnya tiba di Danau Badeur yang berada di ketinggian sekitar 1.100 MDPL, kami menikmati momen. Danau Badeur saat itu ramai dikerumuni pengunjung, wajar hari libur.
Selanjutnya, kami menyempatkan mengambil pose di sekitar Danau Badeur. Kami menuju warung makan tidak jauh dari lokasi Danau Badeur. Setelah itu, kami memesan mie goreng, mie rebus, dan kopi panas. Kami menyantapnya dengan lahap, minum, maupun menyeruput kopi dengan nikmat.
Setelah makan, kami melanjutkan aktivitas rohani. Ternyata kak Yusri menemukan Musala yang sepertinya cukup besar dan toilet bersih dan gratis. Aku pun mengafirmasi bahwa jaraknya dekat. Nama Musala itu Musala Al-A’la.
Setelah makan, minum, dan salat. Kami bersiap untuk perjalanan turun menuju titik awal masuk Cisadon. Sebelum pulang kami menyempatkan foto kembali di sekitar Danau Badeur. Setelah foto kami bersiap untuk turun.
Ternyata hujan dengan deras disertai kilat saat perjalanan pulang dari puncak. Maka kami pun segera memakai jas hujan karena prediksi kak Yusri hujannya pasti lama. Kami semua memakai jas hujan. Saat sampai di gapura selamat datang, kami menyempatkan foto full tim.
Perjalanan turun, kami masih menggunakan jalur yang sama. Sekitar 7 km dengan waktu tempuh 3-4 jam. Hujan turun dengan deras disertai kabut dan kilat, sesekali kami berteduh. Kami juga menyempatkan membeli susu sapi segar hasil perasan langsung yang sudah didinginkan seharga Rp10.000/botol.
Perjalanan ke Cisadon menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi saya dan teman-teman. Kami menemukan keindahan alam yang tak terduga. Desa ini memiliki daya tarik karena kemampuannya menjaga ekosistem hubungan antara alam dan makhluk hidup.









