Scroll to read post

Ketika Samba dan Catenaccio Kehilangan Kekuasaan di Sepak Bola Dunia

Darya abra
Ketika Samba dan Catenaccio Kehilangan Kekuasaan di Sepak Bola Dunia
Ketika Samba dan Catenaccio Kehilangan Kekuasaan di Sepak Bola Dunia
A-AA+A++

bisnis.laksamana.id – 18 Juni 2026 | Piala Dunia 2026 bukan hanya turnamen sepak bola, tetapi juga lorong panjang menuju ingatan bagi pencinta bola generasi 1990-an. Final Piala Dunia 1994 antara Brasil dan Italia di Rose Bowl, Pasadena Stadium, masih menjadi memori agung bagi banyak orang. Laga yang berakhir tanpa gol hingga 120 menit, lalu Brasil menang lewat adu penalti, telah menjadi simbol dua mazhab besar: Brasil dengan imajinasi menyerang dan Italia dengan disiplin strategi.

Tiga dekade kemudian, Piala Dunia kembali digelar di kawasan yang sama, tetapi suasananya telah berubah. Brasil masih hadir, tetapi tidak lagi datang dengan aura tak terkalahkan. Italia bahkan tidak datang sama sekali, menjadi negara ketiga secara beruntun yang gagal lolos ke Piala Dunia: 2018, 2022, dan 2026. Ini menunjukkan bahwa tidak ada takhta abadi di sepak bola dunia.

Italia mengalami nasib serupa dengan Liga Italia, yang pernah menjadi pusat gravitasi sepak bola dunia pada 1990-an. Pemain terbaik dunia ingin bermain di Serie A, tetapi kini dominasi itu memudar. Bukan berarti klub Italia hilang sama sekali, tetapi kekalahan telak Inter dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions 2025 seperti mengirim pesan simbolik: Italia masih bisa bertahan di panggung besar, tetapi tidak lagi menguasai panggung itu.

Masalah Italia bukan sekadar pelatih atau generasi pemain, tetapi lebih dalam: ekosistem. Ketika liga kehilangan daya finansial, klub menjadi lebih berhati-hati berinvestasi. Ketika akademi tidak cukup produktif, tim nasional kekurangan regenerasi. Ketika klub terlalu bergantung pada pemain asing, ruang tumbuh pemain lokal makin terbatas. Italia masih pandai membaca permainan, tetapi sepak bola modern tidak hanya meminta pembacaan, tetapi juga meminta keberanian membongkar kebiasaan.

Brasil menghadapi persoalan berbeda, tidak kehilangan produksi pemain, tetapi kehilangan kesinambungan antara bakat individual dan kekuatan kolektif. Dulu, ketika Brasil membawa bola, dunia seperti menahan napas, tetapi kini Brasil tetap berbahaya, tetapi tidak selalu meyakinkan.

Kejayaan sepak bola Brasil dan Italia semakin memudar, tetapi Piala Dunia 2026 memberi pelajaran penting: sepak bola adalah sejarah yang terus dinegosiasikan. Tidak ada takhta abadi, tidak ada kejayaan yang bisa diwariskan tanpa kerja keras. Di lapangan hijau, sejarah hanya menjadi modal awal, selebihnya ditentukan oleh pembinaan, manajemen liga, keberanian taktik, ilmu olahraga, kultur kompetisi, dan kemampuan membaca perubahan.

Barangkali itulah keindahan sepak bola: ia tidak membiarkan siapa pun terlalu lama berkuasa, memberi ruang bagi kejutan, memberi hukuman bagi kemalasan, dan memberi kesempatan bagi siapa pun yang mau berubah.